<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3933230830072461206</id><updated>2012-01-30T23:56:57.754-08:00</updated><title type='text'>friendzloverscommunity</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://friendzlovers.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3933230830072461206/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://friendzlovers.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>friendzloverscommunity_Batam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11821351383889852725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3933230830072461206.post-8699899848666238368</id><published>2012-01-30T23:56:00.001-08:00</published><updated>2012-01-30T23:56:57.769-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;KISAH NYATA, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Cerita ini  adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang  istri dalam sebuah laptopnya. Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi  pelajaran bagi kita semua.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;nb: sediakan tissu sebelum membacanya yak..&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;**** Cinta itu &lt;/strong&gt;butuh&lt;/em&gt; kesabaran… Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???  Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita… Aku  menjadi perempuan yg paling bahagia… Pernikahan kami sederhana namun  meriah… Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu. Aku  bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan &amp;amp;  mapan pula. Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya. Kami  akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran  dulu… Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci…  Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku…  sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku. Banyak orang  yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihatsekali  bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.***  Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa  waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena  sampai saatini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil  (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami. Karena dia anak lelaki  satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk  mendapatkan penerus generasi baginya. Alhamdulillah saat itu suamiku  mendukungku… Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga  titipan-NYA. Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu  &amp;amp; adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak  menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu  dari suamiku… Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi  dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…&lt;br /&gt;Pernah suatu  ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan,  mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yanghampir  membuat ku menjadi seorang janda itu. Ia dirawat dirumah sakit pada saat  dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya  siang &amp;amp; malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al –Qur’an. Aku sibuk  bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukanaktivitas  sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.  Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,  akumelihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman  suamiku, dandisaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat  akrab mengobroldengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.  Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat  suamiku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya. Kubuka  pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum”  danmereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan  mereka semuamelihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen  padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya melambai,  mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelahaku  menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia  punmenjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta.  Aku punsenyum melihat wajahnya. Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …  “Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”. Aku teringat cerita dari suamiku  bahwa teman baiknya pernah mencintainya,perempuan itu bernama Desi dan  dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hinggaakhirnya aku bertemu  dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangandengannya, tak  banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apayg  mereka bicarakan. Aku sibuk membersihkan &amp;amp; mengobati luka-luka di  kepala suamiku, barusebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik  ipar ku yang bernama Dianmengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin.  Dan suamiku pun mengijinkannya.Kemudian aku pun menemaninya. Tapi  ketika di luar adik ipar ku berkata, “lebih baik kau pulang saja,  adakami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ” Anehnya, aku tak  diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abangharus banyak  beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebatdengannya  mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan  suamiku.Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga  mengatakan halyang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku  mengapa aku pulang takberpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa  kata ibunya, baik ibunyasalah ataupun tidak, suamiku tetap saja  membenarkannya. Akhirnya aku pun pergimeninggalkan rumah sakit itu  dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan  menjenguk suamiku sampai ia kembalidari rumah sakit. Dan aku hanya bisa  menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.&lt;br /&gt;***  Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut  kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Pagi itu,  pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggilku ke  taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk  diayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam  airmancur itu. Aku bertanya, “Ada apa kamu memanggilku ?” Ia berkata,  “Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang” Aku menjawab, “Ia  sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu ditravel bag  dan kamu sudah memeegang tiket bukan?” “Ya tapi aku tak akan lama  disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudahlama tidak bertemu  dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akanpulang dengan  mama ku”, jawabnya tegas. “Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya  seminggu saja kamu disana?”,tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa  penasaran dan sedikit rasa kecewakarena ia baru memberitahukan rencana  kepulanggannya itu, padahal aku telahbersusah payah mencarikan tiket  pesawat untuknya. “Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”,  jawabnya tegas. “Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti  kita 3 minggu tidakbertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku  dan mencium keningku.Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh  aku tunjukkan pada nya. Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh  dengan rasa sayang &amp;amp;cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil  terhadapku. Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama  suamiku, tapi karenakeluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka  cemburu padaku karena suamikusangat sayang padaku. Kemudian aku  memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhematdalam  pengeluaran anggaran rumah tangga kami. Karena ini acara sakral bagi  keluarganya, jadi seluruh keluarganya haruskomplit. Walaupun begitu, aku  pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganyaharus datang ataupun  tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang danaku pun tak  mau membuat riuh keluarga ini. Malam sebelum kepergiannya, aku menangis  sambil membereskan keperluan yang akandibawanya ke Sabang, ia menatapku  dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku,lalu aku peluk erat dirinya.  Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakanterjadi sesuatu, tapi  aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisamenangis karena akan  ditinggal pergi olehnya. Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini,  karena kami selalu bersama-samakemana pun ia pergi. Apa mungkin aku  sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karenabiasanya  hanya pembantu sajalah teman mengobrolku. Hati ini sedih akan di tinggal  pergi olehnya. Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi  kepergiannya. Aku taktahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi  aku tak boleh berburuksangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia  pasti akan selalu menelponku.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;*** Berjauhan dengan suamiku, aku  merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri.Untunglah aku mempunyai  kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku takterlalu kesepian  ditinggal pergi ke Sabang. Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi  kami memburuk dan aku pun jatuhsakit. Rahimku terasa sakit sekali  seperti di lilit oleh tali. Tak tahan akumenahan rasa sakit dirahimku  ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Akudilarikan ke rumah sakit  oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemanikudisana. Dokter memvonis  aku terkena kanker mulut rahim stadium 3. Aku menangis.. apa yang bisa  aku banggakan lagi.. Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang  malang yang selalu berharap akanpunya keturunan dari rahimku.. namun aku  tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudianaku hanya bisa memeluk  adikku. Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan  bertanya-tanya,”kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu.. Sementara  suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah  jikamenelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu  marah-marah terhadapku.. Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan  aku juga tak mau membuatnyakhawatir selama ia berada di Sabang. Lebih  baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan  ceritapadanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari  aku hitung… Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku  sedang melihat foto-fotokami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang  masuk. Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms. Ia  menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari  lagi,aku akan kabarin lagi”. Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin  marah, tapi aku pendam saja egoyang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu  pun tiba, aku menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun  berdandan yang cantik dan memakai parfumkesukaannya untuk menyambut  suamiku pulang, dan nantinya aku juga akanmenyelesaikan masalah  komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini. Bel pun berbunyi, kubukakan  pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelummasuk, aku pegang  tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, akumembungkuk untuk  melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku takmau ada  syaithan yang masuk ke dalam rumah kami. Setelah itu akupun berdiri  langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya.. Masya Allah.. ia tidak  mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naikkeruangan atas,  kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku.. Aku hanya berpikir,  mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nyasampai aku pun  tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku padatempat  mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta. Biasa nya kami selalu  berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas,aku tak tega  membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku ciumkeningnya,  lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.&lt;br /&gt;*** Aku  mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya  daribalkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku  memanggilnya tapi iatak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku  berlari dari atas ke bawahtanpa memperdulikan darah yg bercecer dari  rahimku untuk mengejarnya tapi iabegitu cepat pergi. Aku merasa ada yang  aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa iabersikap tidak  biasa terhadapku? Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan  ada sesuatu. Saat itujuga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan  kebetulan Dian yang mengangkattelponnya, aku bercerita dan aku bertanya  apa yang sedang terjadi dengansuamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe  pikir aja sendiri!!!”. Telpon punlangsung terputus. Ada apa ini? Tanya  hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubahsetelah ia kembali  dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku,apalagi  memanjakan aku. Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia  telah melepas tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya  berbicara seperlunya saja, akuselalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku  dari mana dan mengapa pulangterlambat dan ia bertanya dengan nada yg  keras. Suamiku telah berubah. Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah  dituduhnya berzina dengan mantanpacarku. Ingin rasanya aku menampar  suamiku yang telah menuduhku serendah itu,tapi aku selalu ingat..  sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suamitetap di atas para  istri, itu pedoman yang aku pegang. Aku hanya berdo’a semoga suamiku  sadar akan prilakunya. *** Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung  berubah juga. Aku menangis setiap malam,lelah menanti seperti ini, kami  seperti orang asing yang baru saja berkenalan. Kemesraan yang kami  ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetapseperti itu, aku  tetap merawatnya &amp;amp; menyiakan segala yang ia perlukan.Penyakitkupun  masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanyaperihal  obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadiibu  pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.  Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai  seorangguru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk  pengobatankankerku. Aku pun hanya berobat semampuku. Sungguh.. suami  yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadiorang asing  bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikirsendiri.  Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamikumemanggilku.  “Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.  “Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas. “Ada apa? Mengapa?”,  sahutku penuh dengan keheranan. Astaghfirullah.. suami ku yang dulu  lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, diamembentakku. Sehingga tak ada  lagi kelanjutan diskusi antara kami. Dia mengatakan “Kau ikut saja  jangan banyak tanya!!” Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang  yang akan dibawa ke Sabangsambil menangis, sedih karena suamiku kini tak  ku kenal lagi. Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2  tahun pula ia menjadiorang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu  hangat penuh cinta yang dihiasifoto pernikahan kami, sekarang menjadi  dingin.. sangat dingin dari batu es. Akumenangis dengan kebingungan ini.  Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi akutak bisa. Suamiku tak  suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi,  sukamembanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan  sikapketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya  bicara dan sabarmengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..&lt;br /&gt;***  Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman  aku tidaktidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah  berkumpul disana,termasuk ibu &amp;amp; adik-adiknya. Aku tidak tahu ada  acara apa ini.. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak  betah didalam kamar tuaitu, ia pun langsung keluar bergabung dengan  keluarga besarnya. Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin  memasukkannya ke dalam lemari tuayg berada di dekat pintu kamar, lemari  tua yang telah ada sebelum suamiku lahirtiba-tiba Tante Lia, tante yang  sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegeraberkumpul diruang tengah,  aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengahrumah besar itu,  yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda. Kemudian aku duduk  disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengankebisuan, aku tak  berani bertanya padanya. Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap  paling tua dan paling berhak atassemuanya, membuka pembicaraan.  “Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau  Fisha”.Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.  “Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya.. Nenek pun menjawab, “Kau  telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun,sampai saat ini kami  tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebabselama ini kau  selalu keguguran!!”. Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari?  Untuk dihina ataukahdipisahkan dengan suamiku? “Sebenarnya kami sudah  punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikahdengannya. Tapi  Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnyamenikahlah ia  dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logatorang  Sabang seperti itu semua. Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah  suamiku yang kosong matanya. “Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun  sudah berkenalan dengannya”, neneknyamasih melanjutkan pembicaraan itu.  Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin  akupeluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya  keberanian itu. Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang  terakhir dari ucapannyadengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian  berkata, “kau maunya gimana?kau dimadu atau diceraikan?” MasyaAllah..  kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan  remukmendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti  initerhadapku.. Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku  yang tinggal di pulaukayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun  belakangan ini. “Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku  untuk menjawab. Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang  dingin dan gemetar akumenjawab dengan tegas. “Walaupun aku tidak bisa  berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapatberdiskusi dengannya  melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluargaini, aku akan  menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.” Itu yang aku jawab,  dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itujuga suamiku  memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikitpun  menetes di hadapan mereka. Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah  siapakah yang akan menjadi sahabatkudirumah kita nanti, yah?” Suamiku  menjawab, “Dia Desi!” Aku pun langsung menarik napas dan langsung  berbicara, “Kapan pernikahannyaberlangsung? Apa yang harus saya siapkan  dalam pernikahan ini Nek?.” Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2  minggu lagi.” “Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah,  untuk menyuruhnyamengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah  berbicara seperti itu aku permisiuntuk pamit ke kamar. Tak tahan lagi..  air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku bukapintu kamar  dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi akusendiri  disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi.  Sakit.Diiringi akutnya penyakitku.. Apakah karena ini suamiku menjadi  orang yang asing selama 2 tahun belakanganini? Aku berjalan menuju ke  meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambilbertanya-tanya, “sudah  tidak cantikkah aku ini?” Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang  setiap hari rontok. Kulihatwajahku, ternyata aku memang sudah tidak  cantik lagi, rambutku sudah hampirhabis.. kepalaku sudah botak dibagian  tengahnya. Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang  datang, ia berdiridibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera  memandangnya dari cerminmeja rias itu. Kami diam sejenak, lalu aku mulai  pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberisahabat kepada ku. Jadi  aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti!Iya kan?.”  Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia  tersenyum danbertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan  jangan salah memakaishampo. Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat  cuek?” dan ia sudah tak memanjakankulagi. Lalu dia berkata, “sudah  malam, kita istirahat yuk!” “Aku sholat isya dulu baru aku tidur”,  jawabku tenang. Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung  mundur waktu, kapan akuakan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk  mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga.  Sudahlah, ini mungkin takdirku. Akuingin suamiku kembali seperti dulu,  yang sangat memanjakan aku atas rasa sayangdan cintanya itu. *** Malam  sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.  Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah  padasuamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku  yang sedangtidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu  kepadaku. Akusave di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”  Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk  keluar.Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin  saja akutakkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama..  lalu suamiku yangtelah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan  berbicara padaku. “Apakah kamu sudah siap?” Kuhapus airmata yang menetes  diwajahku sambil berkata : “Nanti jika ia telah sah jadi istrimu,  ketika kamu membawa ia masuk kedalamrumah ini, cucilah kakinya  sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketikakalian masuk ke dalam  kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimanayang kamu  lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karenatak  sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.  Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?” Aku kaget mendengar kata  itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsungmenatapnya dengan  mata yang berbinar-binar… “Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan  barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwakuping ini tidak salah mendengar.  Dia mengangguk dan berkata, “Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa  bunda?”,sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak  sedikit membungkukkarena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.  Dia tersenyum sambil berkata, “Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku  danberkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain  mama”. Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan  berkata, “Ayah,apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja?  Mengapa Ayah berubah? Akukangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih  sayang Ayah? Aku kangen denganmanjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu  hal lagi yang harus Ayah tau, bahwaaku tidak pernah berzinah! Dulu..  waktu awal kita pacaran, aku memang belumbisa melupakannya, setelah 4  bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yangdihadapanku itu adalah  lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzinaAyah.” Aku  langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata,”Aku  minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”. Saat itu juga, diangkatnya  badanku.. ia hanya menangis. Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku  menanti dirinya kembali. Tiba-tibaperutku sakit, ia menyadari bahwa ada  yang tidak beres denganku dan iabertanya, “bunda baik-baik saja kan?”  tanyanya dengan penuh khawatir. Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan  melihat kamu kembali seperti dulu itu sudahmebuatku baik, Yah. Aku hanya  tak bisa bicara sekarang”. Karena dia akanmenikah. Aku tak mau membuat  dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acaraprosesi akad nikah tersebut.&lt;br /&gt;***  Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang  suamiku. Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu,  membuat hati inicemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”,  tapi aku ingat akan kondisiku. Jantung ini berdebar kencang saat  mendengar ijab-qabul tersebut. Begituijab-qabul selesai, aku menarik  napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu,memelukku. Dalam hati aku  berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat. Tak sanggup aku  melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yanghadir di  acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapansangat  aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik  itu..hatiku menangis. Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam  rumah begitu saja. Tak mencucikakinya. Aku sangat heran dengan  perilakunya. Apa iya, dia tidak suka denganpernikahan ini? Sementara itu  Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti akudahulu,  yang di musuhi. Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku  akan tidur denganperempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa  yang sedang mereka lakukandidalam sana. Sepertiga malam pada saat aku  ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, laluaku melihat ada lelaki  yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekatilalu kulihat.  Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyatatidur  disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang  lelah,tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget. “Kamu  datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum  danmegajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku,  aku takboleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita  pulang keJakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga  adik-adikku” Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung  mengajakku untukistirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku  tersenyum saja, sudah lamaini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau  akan menyuruh malaikat maut untukmengambil nyawaku sekarang ini, karena  aku telah merasakan kehadirannya saatini. Tapi.. masih bisakah engkau  ijinkan aku untuk merasakan kehangatan darisuamiku yang telah hilang  selama 2 tahun ini.. Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?” Aku menangis  dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan. Aku pun berkata,  “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?” “Aku kangen sama kamu Bunda, aku  tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah seringterluka oleh sikapku yang  egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu. Lalu suamiku  berkata, “Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selamaayah di  Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah,  bundaseperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu  lagi.. ayahpernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana  isinya kalau bundagak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu  diberi tanda kutip (“sepertiitu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda  tersinggung dan ayah berpikir kalaubunda pernah tidur dengannya sebelum  bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahioleh keluarga ayah karena ayah  terlalu memanjakan bunda” Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku,  ketika tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya  yang tidak pernah melihat betapatulusnya aku mencintai pasangan seumur  hidupku ini. Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku  tidak pernah berzinahdan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya  mengejar hartamu, mengapaaku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang  lebih mapan darimu waktu itu Yah.Jika aku hanya mengejar hartamu, aku  tak mungkin setiap hari menangis karenamenderita mencintaimu.” Entah aku  harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian  dikamarpengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan  suamiku danberusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga. Karena  aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.&lt;br /&gt;***  Keesokan harinya… Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu,  kepalaku pusing, rahimkusakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan  suamiku kaget bukan main, ialangsung menggendongku. Aku pun dilarikan ke  rumah sakit.. Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku.. Aku  merasakan tanganku basah.. Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku  penuh dengan rasa kekhawatiran. Ia menggenggam tanganku dengan erat..  Dan mengatakan, “Bunda, Ayah minta maaf…” Berkali-kali ia mengucapkan  hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadipadaku? Aku berkata  dengan suara yang lirih, “Yah, bunda ingin pulang.. bunda inginbertemu  kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..” “Ayah jangan  berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget samaAyah.”  Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas,  kakiku sudahtak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan  suamiku. Kulihatwajahnya yang tampan, berlinang air mata. Sebelum mata  ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengankalimat  tahlil. Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku.. Aku bahagia  selalu melayaninya dalam suka dan duka.. Menemaninya dalam ketika ia  mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kamimenikah. Aku bahagia  bersuamikan dia. Dia adalah nafasku. Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku  telah hadir didalam kehidupan anakmu sampaiaku hidup didalam hati  anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’aagar Mama merestui  hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku,apa engkau  punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikritetap  milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari  duluaku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa  kau bencidiriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu  kau bersikap sebaliknya.”&lt;br /&gt;***(ayah) &amp;nbsp;Setelah ku buka laptop,  kubaca curhatan istriku. ======================== Ayah,mengapa  keluargamu sangat membenciku? Aku dihina oleh mereka ayah. Mengapa  mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu? Pernah suatu ketika  aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adikiparku tapi aku  disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah.. Tapi  ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia  memanggilkudengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti  itu ayah? Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu  kamu pasti membelaadikmu, tak ada gunanya Yah.. Aku diusir dari rumah  sakit. Aku tak boleh merawat suamiku. Aku cemburu pada Desi yang sangat  akrab dengan mertuaku. Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama  mertuaku. Aku sangat marah.. Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku,  ia akan pasti membela Desi danibunya.. Aku tak mau sakit hati lagi. Ya  Allah kuatkan aku, maafkan aku.. Engkau Maha Adil.. Berilah keadilan ini  padaku, Ya Allah.. Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada  ku.. Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi  padamu.. Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.. Lihatlah ayah, aku kuat  walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.. Aku bisa melakukan ini  semua sendiri ayah.. Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.  Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui. Tapi aku tak boleh egois,  ini untuk kebahagian keluarga suamiku. Aku harus sadar diri. Ayah,  sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu. Mengapa harus Desi yang menjadi  sahabatku? Ayah.. aku masih tak rela. Tapi aku harus ikhlas menerimanya.  Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya. Semoga saja aku  masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku. Aku ingin sekali  merasakan kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku.  Ayah.. aku kangen ayah..&lt;br /&gt;=========== Dan kini aku telah membawamu  ke orang tuamu, Bunda.. Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama  Desi di Pulau Kayu ini. Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang  berwana pink yang mencerminkankeceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.  Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur. Bunda akan selalu  hidup dihati ayah. Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..  Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku,  rambutkutak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.  Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku  takperduli, hidup dalam kesendirianmu.. Seandainya Ayah tak  menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan  Bunda yang halus. Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan  bunda.. Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui. Aku  menyesal telah asik dalam ke-egoanku.. Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur  tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang. Maafkan  aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu  meng-iyakanapa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.  Maafkan aku ketika kaudi fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu  saja. Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana? Apakah  Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana? Tunggulah Ayah  disana Bunda.. Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku  mohon.. Ayah Sayang Bunda..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3933230830072461206-8699899848666238368?l=friendzlovers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://friendzlovers.blogspot.com/feeds/8699899848666238368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://friendzlovers.blogspot.com/2012/01/kisah-nyata-cerita-ini-adalah-kisah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3933230830072461206/posts/default/8699899848666238368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3933230830072461206/posts/default/8699899848666238368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://friendzlovers.blogspot.com/2012/01/kisah-nyata-cerita-ini-adalah-kisah.html' title=''/><author><name>friendzloverscommunity_Batam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11821351383889852725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3933230830072461206.post-8664715804131789202</id><published>2012-01-30T18:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T19:00:31.890-08:00</updated><title type='text'>Perkenalan</title><content type='html'>Friendz Lovers Community merupakan komunitas sekumpulan anak muda beragam karakter ,yang bertujuan sebagai tempat&amp;nbsp; atau wadah untuk menyalurkan ide kreatifitas ,komunitas kami juga memiliki nama lain yang lebih gampang untuk diingat yaitu ''FL community".Keinginan kami untuk membentuk komunitas sangatlah kuat sehingga pada tanggal 14 Desember 2012 melalui perjalanan yang panjang komunitas ini baru bisa berdiri.Rasa kebersamaan diantara anggota membuat kami menjadi lebih kuat untuk membangun komunitas ini lebih baik lagi.FL Community saat ini beranggotakan 7 orang ,dengan berbagai suku tetapi menjadi satu dalam satu komunitas. Semoga komunitas ini bisa berjalan dengan baik &amp;amp; bertahan untuk kedepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salam persahabatan &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;u&gt;Friendz Lovers Community&amp;nbsp; &lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3933230830072461206-8664715804131789202?l=friendzlovers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://friendzlovers.blogspot.com/feeds/8664715804131789202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://friendzlovers.blogspot.com/2012/01/friendz-lovers-community-merupakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3933230830072461206/posts/default/8664715804131789202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3933230830072461206/posts/default/8664715804131789202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://friendzlovers.blogspot.com/2012/01/friendz-lovers-community-merupakan.html' title='Perkenalan'/><author><name>friendzloverscommunity_Batam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11821351383889852725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Sei Beduk, Batam, Indonesia</georss:featurename><georss:point>1.0456264 104.0304535</georss:point><georss:box>0.02978689999999995 102.76702599999999 2.0614659 105.293881</georss:box></entry></feed>
